Selasa, 29 September 2020

SEJARAH DAN KEBUTUHAN E-LEARNING

 

πŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’š



πŸ’š SEJARAH E-LEARNING

Konsep Pembelajaran Berbasis Komputer dan Jaringan seringkali diartikan hanya sebagai e-learning atau Distance Learning. Perkembangan konsep E-learning ini ditandai dengan munculnya situs-situs yang melayani proses belajar mengajar dengan berbasiskan komputer dan jaringan sejak era 15 tahun yang lalu di seluruh pelosok Internet dari yang gratis maupun yang komersial(Adawi, 2014). Sejarah E-learning di Indonesia dapat dirunut secara waktu sebagai berikut :

πŸ‘‰1990 

Era CBT (Computer-Based Training) di mana mulai bermunculan aplikasi Elearning yang berjalan dalam PC standlone ataupun berbentuk kemasan CD-ROM. Isi materi dalam bentuk tulisan maupun multimedia (video dan audio) dalam format mov, mpeg-1, atau avi.

πŸ‘‰1994 

Seiring dengan diterimanya CBT oleh masyarakat sejak tahun 1994 CBT muncul dalam bentuk paket-paket yang lebih menarik dan diproduksi secara massal.

πŸ‘‰1997 

LMS (Learning Management System) seiring dengan perkembangan teknologi internet, masyarakat di dunia mulai terkoneksi dengan internet. Kebutuhan akan informasi yang dapat diperoleh dengan cepat mulai dirasakan sebagai kebutuhan mutlak , dan jarak serta lokasi bukanlah halangan lagi. Dari sinilah muncul LMS. Perkembangan LMS yang makin pesat membuat pemikiran baru untuk mengatasi masalah interoperability antar LMS yang satu dengan lainnya secara standar.

πŸ‘‰1999 

Sebagai tahun Aplikasi E-learning berbasis Web. Perkembangan LMS menuju aplikasi e-learning berbasis Web berkembang secara total, baik untuk pembelajar (learner) maupun administrasi belajar mengajarnya. LMS mulai digabungkan dengan situs-situs informasi, majalah, dan surat kabar. Isinya juga semakin kaya dengan  perpaduan multimedia , video streaming, serta penampilan interaktif dalam berbagai pilihan format data yang lebih standar, dan berukuran kecil. Di dunia, E-learning sudah dimulai sekitar tahun 1924 (Terry and Kid , 2010) dan jika dirunut secara waktu maka sebagai berikut.

πŸ‘‰1924 

Tahun ini dikenal dengan kemunculan The First “Testing Machine”. Profesor Sidney Pressey dari Ohio State University memperkenalkan alat bernama “ Automatic Teacher”. Percobaan ini gagal. 

πŸ‘‰1954 

Testing Machine dibuat kembali oleh Profesor BF Skinner dari Harvard University dan berhasil diterapkan di sekolah.

πŸ‘‰1960 

Kemunculan The Computer Based Training (CBT) dengan Programmed Logic for Automated Teaching Operation atau lebih dikenal dengan sebutan PLATO.’

πŸ‘‰1966 

Profesor Psikologi Patrick Suppes dan Richard C Atkinson dari Standford University menggunakan Computer Aided Instruction untuk mengajar matematika dan membaca untuk anak-anak Sekolah Dasar.

πŸ‘‰1969 

Internet mulai dibuat oleh US Departement of Defense.

πŸ‘‰1970 

Komputer semakin diperbaharui menjadi komputer modern, CBT pun juga ikut bertransformasi.

πŸ‘‰1980s 

Macintosh muncul dan dimulainya perkembangan komunitas online untuk berbagi informasi, permulaan munculnya e-learning modern.

πŸ‘‰1990s 

Kelahiran pertama “Digital Native”, munculnya e-mail menjadi Zaman Baru bagi elearning dan e-learning mulai tertata dengan baik.

πŸ‘‰2000s 

Pihak bisnis mulai mengadopsi e-learning menjadi pusat pelatihan bagi pekerjanya. Tools untuk e-learning sudah mulai banyak ragam yang bermunculan.

πŸ‘‰2010s 

Zaman e-learning yang sebenarnya dimana e-learning sejalan dengan momentum kemunculan social media, dimana manusia sudah bisa berbagi informasi mengenai hal apa saja melalui electronik secara online.

 

❤ KEBUTUHAN E-LEARING

Layanan pendidikan konvensional tidak selamanya mencukupi kebutuhankebutuhan para pembelajar. Ada hal-hal khusus yang menyebabkan seseorang tidak mampu mengikuti pendidikan secara konvensional, terutama masalah aksesabilitas. Kekurangan fitur dari pendidikan konvensional ini akhirnya mendapatkan solusi dengan hadirnya model pembelajaran e-Learning. Berbagai aspek yang berkaitan dengan kendala akses terhadap layanan pendidikan konvensional adalah:

🌞 Keterbatasan kemampuan finansial (financial affordance)

Ketidakmampuan seseorang untuk membiayai pendidikan formal dapat diatasi dengan keikutsertaanya pada pendidikan yang diselenggaakan melalui e-Learning. Pembiayaan pada pendidikan konvensional bukan hanya masalah biaya pendidikan itu saja, tetapi juga meliputi biaya transportasi dan akomodasi untuk dapat menghadiri pertemuan dalam kelas. Hal tersebut merupakan salah satu yang tidak diperlukan dalam e-Learning. Termasuk juga masalah pengadaan bahan belajar, dalam e-Learning bahan belajar dapat diwujudkan dala bentuk softfile yang berbiaya rendah (lowcost) baik dalam hal replikasinya (penggandaan) ataupun dalam hal pendistribusian.

🌞Kekurangberuntungan secara fisik (physically disadvantaged)

 Kondisi fisik dapat juga menjadi kendala yang dihadapi sebagian anggota masyarakat untuk mendapatkan layanan pendidikan secara konvensional, misalnya masalah mobilitas.

🌞Keterbatasan waktu untuk mengikuti pendidikan pada pendidikan formal/konvensional.

Fleksibilitas kegiatan belajar yang ditawarkan oleh e-Learning memberikan peluang bagi para pekerja atau pegawai untuk tetap melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan memanfaatkan waktu yang sesuai bagi mereka.

🌞Kendala dalam pencapaian pangkat puncak bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) (constraint in achieving the highest rank)

Para pekerja yang termotivasi untuk dapat secara terus-menerus meningkatkan kapabilitas dirinya mengalami kendala kalau harus mengikuti pendidikan lanjutan secara konvensional karena umumnya kegiatan pendidikan pelaksanaannya bersamaan dengan jam kerja para pekerja. Sedangkan bagi para pegawai negeri sipil (PNS), ada peraturan pemerintah yang menentukan jenjang pangkat tertinggi yang boleh dicapai sesuai dengan tingkat pendidikan dan pelatihan. Peran e-Learning dalam bentuk pendidikan yang flexibel memberi peluang bagi pekerja dan PNS untuk tetap menerapkan life long learning tanpa meninggalkan pekerjaan. Misalnya dengan diklat online (e-training).

🌞Kondisi/keadaan geografis yang sulit untuk dicapai dan jarak yang jauh.

Penyebaran penduduk yang sangat berjauhan dengan jumlah populasi yang besar dan keadaan geografis yang beragam menjadi kendala untuk pemerataan pendidikan secara reguler atau konvensional.

🌞Keterbatasan sarana trasportasi untuk menjangkau lembaga pendidikan regular/konvensional.

🌞Keterbatasan keuangan negara untuk menyediakan lembaga pendidikan reguler/konvensional untuk melayani sejumlah besar penduduk yang terpencarpencar dalam jumlah yang relatif kecil (rarely dispersed population)

Menghadapi kondisi demografis dan geografis seperti yang telah disebutkan di atas diperlukan adanya kebijakan guna memenuhi kebutuhan pendidikan masyarakat tanpa harus membangun lembaga pendidikan konvensional yang mungkin tidak efisien.

🌞Keterbatasan lembaga pendidikan reguler/konvensional dalam memenuhi kebutuhan pendidikan masyarakat. Sebagai contoh, PPPPTK Matematika sebagai satu-satunya lembaga pemerintah yang bertanggung jawab terhadap pengembangan kompetensi guru matematika di Indonesia memiliki lahan garap yang jumlahnya sangat besar, tentu tidak mampu menyentuh semua guru jika hanya mengandalkan diklat reguler yang dilaksanakannya. Salah satu alternatif pemecahannya adalah penyelenggaraan diklat online yang mampu meraup peserta secara massal dan berbentuk kelas paralel.




πŸ’šSumber referensi :

Bahan Ajar E-Learning oleh TIM DOSEN PGSD FIP UNNES



πŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’š

Senin, 21 September 2020

KONSEP, KARAKTERISTIK, TUJUAN, MANFAAT & KOMPONEN E-LEARNING

 πŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’š




πŸ’š DEFINISI  E-LEARNING

E-learning dalam arti luas bisa mencakup pembelajaran yang dilakukan di media elektronik (internet) baik secara formal maupun informal. E-learning secara formal misalnya adalah pembelajaran dengan kurikulum, silabus, mata pelajaran dan tes yang telah diatur dan disusun berdasarkan jadwal yang telah disepakati pihak-pihak terkait (pengelola e-learning dan pembelajar sendiri). Pembelajaran seperti ini biasanya tingkat interaksinya tinggi dan diwajibkan oleh perusahaan pada karyawannya atau pembelajaran jarak jauh yang dikelola oleh universitas dan perusahaan-perusahaan (biasanya perusahaan konsultan) yang memang bergerak dibidang penyediaan jasa e-learning untuk umum. E-learning bisa juga dilakukan secara informal dengan interaksi yang lebih sederhana, misalnya melalui sarana mailing list, e-newsletter atau website pribadi, organisasi dan perusahaan yang ingin mensosialisasikan jasa, program, pengetahuan atau keterampilan tertentu pada masyarakat luas (biasanya tanpa memungut biaya).

Koran dalam Rusman (2013:316) menyatakan bahwa e-Learning adalah pembelajaran yang menggunakan peratalatan elektronik jaringan (LAN, WAN, atau internet) untuk menyampaikan materi pembelajaran, interaksi, maupun bimbingan. Sedangkan LearnFrame.Com dalam Glossary of eLearning Terms [Glossary, 2001] mengungkapkan bahwa . eLearning adalah sistem pendidikan yang menggunakan aplikasi elektronik untuk mendukung belajar mengajar dengan media Internet, jaringan komputer,maupun komputer standalone. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa e-Learning merupakan suatu kegiatan belajar mengajar yang memanfaatkan perangkat elektronik sebagai media pendukung prosesnya.


Pembelajaran dengan e-Learning dapat disampaikan secara synchrounous yaitu dimana pembelajaran dilakukan pada saat itu juga, atau asynchronous, yakni pembelajaran dilakukan pada saat yang berbeda. Contoh e-Learning secara synchronous adalah pembelajaran melalui webcam antara guru dan siswa secara live pada saat itu juga. Sedangkan contoh penyampaian secara asynchronous adalah guru membuat materi atau video pembelajaran terlebih dahulu, kemudian materi atau video tersebut diunggah sebelum pembelajaran akan dilangsungkan.

Materi pembelajaran yang disajika dalam e-Learning berupa teks, grafik, animasi, simulasi, audio, dan video. E-Learning juga harus memiliki fitur untuk diskusi misalnya chatting.

KARAKTERISTIK E-LEARNING

Menurut Rosenberg (2001) karakteristik E-learning bersifat jaringan, yang membuatnya mampu memperbaiki secara cepat, menyimpan atau memunculkan kembali, mendistribusikan, dan sharing pembelajaran dan informasi.

Karakteristik E-learning menurut Nursalam (2008:135) adalah:

1.      Memanfaatkan jasa teknologi elektronik.

2.      Memanfaatkan keunggulan komputer (digital media dan komputer networks)

3.      Menggunakan bahan ajar yang bersifat mandiri (self learning materials) kemudian disimpan di komputer, sehingga dapat diakses oleh doesen dan mahasiswa kapan saja dan dimana saja.

4.      Memanfaatkan jadwal pembelajaran, kurikulum, hasil kemajuan belajar, dan hal-hal yang berkaitan dengan administrasi pendidikan dapat dilihat setiap saat di komputer.


πŸ’š TUJUAN E-LEARNING

Tujuan e-learning adalah untuk meningkatkan daya serap dari para mahasiswa atas materi yang diajarkan, meningkatkan partisipasi aktif dari para mahasiswa, meningkatkan kemampuan belajar mandiri, dan meningkatkan kualitas materi pembelajaran. 

Diharapkan dapat merangsang pertumbuhan inovasi baru para mahasiswa sesuai dengan bidangnya masing-masing. e-learning merupakan alternatif pembelajaran yang relatif baru untuk menunjang keberhasilan proses belajar mengajar dengan menggunakan berbagai fasilitas teknologi informasi, seperti teknologi komputer baik hardware maupun software, teknologi jaringan seperti local area network dan wide area network, dan teknologi telekomunikasi seperti radio, telefon, dan satelit. 


MANFAAT E-LEARNING

Manfaat yang akan didapat dari penggunaan E-learning, yaitu sebagai berikut :

  1. Penggunaan E-learning untuk menunjang pelaksanaan proses belajar dapat meningkatkan daya serap peserta didik atas materi yang diajarkan.
  2. Meningkatkan partisipasi aktif dari peserta didik. Sehingga proses pembelajaran menjadi lebih menarik dan tidak monoton.
  3. Meningkatkan kemampuan belajar mandiri peserta didik. Sehingga peserta didik tidak selalu bergatung kepada temannya.
  4. Meningkatkan kualitas materi pendidik dan pelatihan. Dimana materi yang bisa diberikan oleh pendidik akan meningkat kualitasnya karena bisa mengambil dari berbagai sumber yang ada.
  5. Meningkatkan kemampuan menampilkan informasi dengan perangkat teknologi informasi, dimana dengan perangkat biasa sulit dilakukan.

πŸ’š KOMPONEN E-LEARNING

1. Infrastruktur e-Learning: Infrastruktur e-Learning terdiri daripada personal computer (PC), jaringan komputer, internet dan perlengkapan multimedia. Termasuk di dalamnya peralatan teleconference apabila kita memberikan layanan synchronous learning melalui teleconference.

2. Sistem dan Aplikasi e-Learning: Sistem perangkat lunak yang mem-virtualisasi proses belajar mengajar konvensional. Bagaimana manajemen kelas, pembuatan materi atau konten, forum diskusi, sistem penilaian (rapor), sistem ujian online dan segala fitur yang berhubungan dengan manajemen proses belajar mengajar. Sistem perangkat lunak tersebut sering disebut dengan Learning Management System (LMS).

3. Isikandungan/Konten e-Learning: Konten dan bahan ajar yang ada pada e-Learning system (Learning Management System). Konten dan bahan ajar ini bisa dalam bentuk Multimedia-based Content(konten berbentuk multimedia interaktif) atau Text-based Content (konten berbentuk teks seperti pada buku pelajaran biasa). Biasa disimpan dalam Learning Management System (LMS) sehingga dapat dijalankan oleh siswa kapanpun dan dimanapun.

Sedangkan Watak/ Actor yang ada dalam pelaksanakan e-Learning boleh dikatakan sama dengan proses pengajaran dan pembelajaran  konvensional, iaitu perlu adanya guru (instruktur) yang membimbing, siswa/pelajar yang menerima bahan ajar dan pentadbir/administrator yang mengelola administrasi dan proses pengajaran dan pembelajaran.



Sumber referensi : 

https://www.gurupendidikan.co.id/pengertian-e-learning/

https://www.dosenpendidikan.co.id/e-learning-adalah/

https://anggaradian.wordpress.com/2014/12/05/konsep-e-learning-dan-online-learning/#:~:text=eLearning%20adalah%20sistem%20pendidikan%20yang,memanfaatkan%20perangkat%20elektronik%20sebagai%20media


πŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’š


Tugas Topik 10_12_ANDINA WIDYA KUSUMAWARDANI

 πŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’š                                                KOMUNIKASI DALAM KELAS ONLINE Salah satu aktivitas dalam pembelajaran online ad...